Pindang serani adalah hidangan sup ikan berkuah bening khas Jepara dengan rasa pedas, asam, dan manis yang menyegarkan. Makanan ini menggunakan berbagai jenis ikan laut, seperti bandeng atau kakap, yang dimasak bersama bumbu-bumbu seperti kunyit, belimbing wuluh, tomat, kemangi, serai, dan lengkuas. Ciri khasnya adalah kuahnya yang ringan dan segar, dengan bumbu yang tidak dihaluskan, melainkan diiris atau digeprek.
Ciri khas pindang serani
Rasa : Perpaduan rasa pedas, asam, dan manis yang seimbang, membuat rasanya segar dan ringan.
Kuah : Kuah bening yang kaya rempah, berbeda dengan pindang lainnya yang seringkali berwarna kuning pekat.
Bahan : Menggunakan ikan laut segar seperti bandeng, kakap, atau bawal putih. Bumbu utamanya meliputi belimbing wuluh, tomat, daun kemangi, serai, lengkuas, dan kunyit yang tidak dihaluskan.
Proses memasak : Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan kunyit bisa ditumis terlebih dahulu atau langsung dimasukkan ke dalam air mendidih bersama bumbu aromatik lainnya.
Sejarah dan asal-usul
Pindang serani berasal dari Jepara, Jawa Tengah, dan konon sudah ada sejak masa Kerajaan Kalinyamat pada abad ke-16. Nama “serani” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Nasrani” atau Kristen, karena pada masa lalu hidangan ini sering disajikan saat perayaan Natal oleh komunitas Kristen di Jepara. Masakan ini merupakan perpaduan antara budaya kuliner Jawa dan pengaruh Eropa, mencerminkan sejarah Jepara sebagai kota pelabuhan yang terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya asing. Selain itu, terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa bandeng serani juga dipengaruhi oleh kuliner komunitas Tiongkok di Betawi, di mana ikan bandeng menjadi hidangan penting saat perayaan Hari Raya Imlek.


