Makanan tradisional khas Jepara yang terbuat dari tepung pohon aren atau sagu. Proses pembuatannya cukup lama dan melalui beberapa tahapan pengendapan, pengeringan, dan pengukusan hingga membentuk butiran kecil berwarna putih pucat atau keabu-abuan yang kemudian dibungkus daun jati untuk menjaga kualitasnya.
Ciri khas
Bahan utama: Tepung aren, yang diolah dari batang pohon aren.
Tekstur: Kenyal, lengket, dan terasa halus di mulut setelah dimakan, meskipun terlihat kasar dari luar.
Rasa: Gurih dan sedikit asin.
Warna: Keabu-abuan, tergantung dari sagu yang digunakan.
Penyajian: Biasanya dibungkus daun jati atau daun pisang untuk menjaga rasa dan aroma khasnya.
Penyertaan kuliner: Disajikan bersama makanan lain seperti bakso, pecel, sate kikil, atau soto.
Nilai gizi: Kaya akan karbohidrat dan kalori, menjadikannya sumber energi yang baik.
Sejarah
Horog-horog berasal dari masa penjajahan Jepang, ketika masyarakat Jepara mengalami kesulitan mendapatkan beras akibat larangan menjual dan mengonsumsi beras secara bebas. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk berinovasi mencari sumber pangan alternatif. Melihat melimpahnya pohon aren di daerah mereka, masyarakat Jepara kemudian mengolah bagian dari pohon tersebut menjadi tepung. Tepung aren ini selanjutnya diolah menjadi makanan bernama horog-horog yang berfungsi sebagai pengganti nasi. Tujuan utama pembuatan horog-horog adalah agar masyarakat tetap memiliki sumber karbohidrat yang cukup meskipun beras sulit didapatkan pada masa itu.



